Minggu, 26 Februari 2017

Masih dengan keyakinan yang sama #Suratke11

Perbedaan-perbedaan yang aku rasakan saat ini semoga hanya perasaan ku saja,  harapan ku semuanya tetap sama dan dengan keyakinan yang sama.

Sering kali aku marah, kesal atau bahkan ini pergi saja dari mu. Namun kini aku sadar, aku harus lebih sabar menyikapi ini semua sama seperti mu yang selalu sabar menghadapi ku. Sedih karena memang terasa jauh sekali. Bahkan sering kali aku berpikir "bagaimana jika aku saja yang melamar mu" sebuah pikiran yang sungguh diluar jangkauan ku. Itu lah aku, yang akan selalu menjaga keyakinan ini sampai nanti jika Allah menghendaki tentunya.

Ada permintaan dari ku, jangan biarkan aku begitu saja. Jangan terlalu percaya terhadap ku.. aku mohon karena hal itu akan sulit sekali bagiku, sekali-kali cobalah ingatkan aku dan sapa aku supaya aku merasa kau benar-benar ada dan menambah keyakinan ku terhadap mu.

Sekali lagi jangan terlalu percaya, engkau pun tau bagaimana dengan mudahnya aku berteman dengan orang lain dan dengan mudahnya merasa nyaman dengan orang yang terkadang baru saja aku kenal. Bukan berarti keyakin ku terganggu.. tidak, aku akan tetap yakin terhadapmu .. tapi engkau pasti paham bahwa ketika rasa nyaman itu ada itu lah yang membahayakan bagiku.

Dan aku pun percaya, engkau disana akan menjaganya ... untuk mewujudkan apa yang telah kita rencanakan, mulai dari taman sunflower, rumah sederhana yang segala peralatannya aku buat sendiri dengan menggunakan kosep fisika.. atau bahkan rencana ketika kita telah bersama namun harus LDR karena sama-sama melanjutkan studi di negara yang berbeda.

Tetaplah seperti itu, karena aku sungguh menyayangimu.

Jumat, 24 Februari 2017

A J A M #Suratke10

Siapa dia?
yaa aku berusaha berani untuk menyebut namanya karena saat ini aku benar-benar merindukannya
sosok yang selalu memberi ku semangat dan selalu berusaha untuk selalu ada

disaat aku mulai letih, putus asa bahkan ketika aku kesal sekali pun
dia selalu ada

memori ku terbawa ke 4 tahun yang lalu, disaat aku belum mengenalnya dan mulai mengenalnya
sungguh berbeda sekali jika aku lihat dulu dan sekarang
*apa yang berbeda?
diriku
ternyata aku baru sadar betapa sabar sekali ia berteman dengan ku dan betapa sabar juga ia membimbing ku, selalu mengintakan, selalu menegur dan bahkan memberikan ilmu-ilmu baru yang sebelumnya sama sekali tak aku ketahui.

Sungguh aku bersyukur telah diberi kesempatan untuk berteman dengannya. Hingga akhirnya yah aku seorang manusia yang mempunyai perasaan tentunya, aku mulai merasa nyaman dengannya dan berharap ia pun merasakan hal yang sama. Masa depan ku begitu tergambar dengan jelas dan indah ketika aku bersamanya. Namun... bagaimana selanjutnya? aku tidak tahu.. karena Dia lah Allah yang maha tau.

Dan untuk saat ini, aku benar-benar merindukan sosok Ajam, namun apa yang terjadi? semuanya telah berbeda ia begitu sibuk sehingga seperti tidak mempunyai waktu untuk ku, waktu untuk mengingatkan ku ketika salah, waktu untuk menegur ku atau bahkan waktu untuk berbagi ilmu
yaa dia sungguh sibuk, dan aku pun mengetahui hal itu


Namun, apakah dengan kesibukan barunya itu ia lupa bahwa ada seorang teman yang masih membutuhkanya, semua tentangnya. Apakah dia lupa Rabb? jika dulu dia seolah vitamin semangat dalam hidupku, apa jadinya sekarang jika tidak ada? apakah aku masih bisa seperti sebelum-sebelumnya? ya Tentu, aku berusaha untuk bisa . Karena aku tau dia akan sibuk dan seiring berjalannya waktu dia mungkin lupa terhadapku. Tapi bagaimana pun sikap dia sekarang aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuknya, dan gelar teman terbaik untuknya tak kan pernah berubah. Dia tetap teman terbaik ku, yang telah membawaku ke kehidupan yang lebih indah.
Terimakasih telah hadir dihidupku, aku harap silaturahmi itu tetap terjaga bagaimana pun kesibukan mu karena engkau pun paham aku sibuk dan kita sama.

Terimakasih sekali Rabb ... telah dipertemukan dengannya.

Kamis, 09 Februari 2017

YAKIN? #SuratKe9

Yakin? mengapa tidak
ahh yakin?
iya InsyaAllah
tapi ...
tuh kan
Intuisi itu tidak ada
*ya jelas tidak ada, atas dasar apa harus ada?
ya memang
namun ... jika seperti itu, mengapa rasa ini ada? untuk apa?
*jangan begitu...karena itu semua adalah anugerah, sekarang tinggal kembali kepada diri sendiri apakah yakin atau tidak?
ini semua berawal ketika percakapan ku dengan sang kakak
kakak "jadi pacaran?"
Nggak ka, ngapain pacaran
"tapi tau saling suka?"
ya mungkin tau
"kenapa gak pacaran aja?"
gak mau ah, ribet
"Seenggaknya ada yang nyemangatin, atau ngasih motivasi ketika down atau bahkan merhatiin ketika sakit"
itu semua udah aku dapetin dari mamah sama bapak di tambah dari kakak juga, aku rasa udah cukup deh, kalau dia harus bersikap seperti itu mah ya udah atuh kak aku nikah aja sama dia
"maksudnya bukan seperti itu, ya sekedar temen deket kan biasanya agak beda dek"

dan ternyata ...
Rabb ... apakah salah jika aku menginginkan dia menyediakan waktu untuk ku? hanya sekedar memberi kabar saja misalnya? sibuk? aku rasa kita sama-sama sibuk, dan apakah dia tidak tau kalau aku disini sedang sakit Rabb? apakah alam tidak memberitahunya? dan apakah intuisi itu tidak ada? yaa memang atas dasar apa intuis harus ada.. aku rasa sudah saatnya mulai bijak dalam menyikapi ini semua ... dan memantaskan diri tentunya, toh kalau pun rasa itu sama-sama ada mungkin tidak akan serumit ini, sebenarnya aku saja yang cengeng, entahlah ... memang disaat kondiri fisik sedang tidak stabil selalu seperti ini seolah mengharapkan untuk diperhatikan namun ketika harapan itu hanyalah harapan ya beginilah jadinya. Memang aku yang salah mengapa harus mengharap pada manusia yang sama-sama seorang hamba seperti ku.