Selasa, 02 Desember 2014

Potret Remaja Masa Kini

 Saat ini kita telah masuk ke era kehidupan global yang serba mudah dan serba cepat. Kita bisa dengan mudahnya berhubungan dengan orang yang berjarak jauh serta mendapatkan informasi dan berbagai hiburan melalui media informasi seperti tv, radio dan internet. Maraknya perkembangan teknologi membawa kita ke dalam sebutan “Dunia Tanpa Tapal Batas” yang artinya kita merasakan seolah dunia ini sempit dan tidak ada batasnya. Perkembangan teknologi yang canggih sangat menarik minat para remaja yang dalam tahap pertumbuhan, remaja selalu ingin mengetahui dan mencoba hal baru yang jika tanpa dibatasi akan muncul tindakan-tindakan yanag melenceng.

Teknologi + Kebebasan – Edukasi = Kehancuran
Inilah yang terjadi dikalangan remaja saat ini, teknologi yang semakin canggih contohnya saja handphone, menjadi salah satu ukuran seseorang di kalangan masyarakat. Tentunya masyarakat kota tidak ingin ketinggalan, orang tua manapun tak ingin anaknya ketinggalan sehingga setiap munculnya teknologi baru orang tua selalu membelikan untuk anaknya, tanpa ada batasan. Sehingga anak tersebut yang sedang dalam proses pertumbuhan dengan rasa ingin tahunya mencari apapun yang ada dipikirannya tanpa batasan dan pendidikan dari orang tua, anak dapat dengan mudah mengakses internet untuk mengetahui sesuatu, dan jarang sekali bahkan tidak ada perhatian orang tua kepada anak tersebut karena orang tua sibuk dengan kesibukannya sendiri. Hal ini, akan mengacu pada tingkat kehancuran generasi bangsa atau remaja.
Rokok, Narkoba, Seks, dan AIDS
Jutaan remaja kita menjadi korban kecanduan narkotik-rokok. Lebih dari dua juta remaja Indonesia kecanduan narkoba (BNN 2004) dan lebih dari dari delapan ribu remaja terdiagnosis pengidap AIDS (Depkes 2008). Disamping itu, moral remaja dalam hubungan seksual sangat menghawatirkan.
Data BKKBN menunjukan pada tahun 2010 di Jabodetabek, remaja yang kehilangan keperawanannya mecapai 51 %.

Menurut artikel yang di muat di http://khanashoffatunnisa4.blogspot.com diakses pada tanggal 24 november 2014 pukul 21.11 , beginilah pengakuan remaja SMA.
Pengakuan remaja SMA, beginikah remaja kita?

“Sekarang gue lagi jomblo. Sudah dua tahun putus. Sakit juga! Habis pacaran empat tahun, dan sudah kayak suami-istri. Dulu, tiap kali ketemu, gejolak seks muncul begitu saja. Terus ML (making love) deh. Biasanya kita lakuin kegiatan itu di hotel. Kadang di rumah juga, kalau orang rumah lagi pergi semua. Kalau rumah nggak lagi sepi ya paling cuma berani ciuman dan raba sana-sini. Buat gue, semua itu biasa. Gue nglakuinnya karena merasa yakin doi bakal jadi suami gue. Gue nggak takut dosa. Kan kita sama-sama mau, jadi nggak ada paksaan. Dosa terjadi kan kalau ada paksaaan. Gitu menurut gue! Waktu putus, gue nggak nyesel sudah nglakuin itu, habis, mau gimana lagi! Santai saja! Tentang pendidikan seks, gue nggak pernah terima dari orangtua. Paling dari teman, majalah, buku, atau film”
Itulah penuturan Neila (samaran), pelajar kelas 3 sebuah SMA di Jakarta Timur, yang baru saja menjalani UAN. Tanpa beban, remaja manis bertubuh mungil ini menceritakan pengalamannya. Ia dan sang kekasih tahu harus melakukan apa supaya hubungan seks pranikah itu tidak membuatnya hamil. Sampai saat ini, Neila yakin orangtuanya sama sekali tidak tahu perilaku putri keduanya itu. ”Gue nggak bakal ceritalah, bisa mati mendadak mereka. Teman malah ada yang tahu, tentu saja yang punya pengalaman sama,” katanya sambil memilin-milin rambutnya.
Menurutnya, ML di kalangan remaja sekarang bukan hal yang terlalu asing lagi. Malah, ada yang sengaja merayu pria dewasa yang bisa ditemui di mal dan tempat umum lain, untuk mendapatkan uang atau barang berharga, seperti telepon seluler model terbaru, jam tangan bermerek, baju, sepatu, tas, dan sebagainya. ”Bukan profesi sih, cuma iseng. Hitung-hitung bisa buat gaya. Mending gue `kan, yang nglakuinnya cuma sama pacar dan bukan demi duit,” sergahnya.
Bagaimana respon anda tentang pengakuan tersebut? Bertindak atau biarkan saja?
Tentu ini bukan hanya tanggung jawab orang tua dari remaja tersebut, kita pun bertanggung jawab atas ini. Kondisi ini harus dibina dan dididik agar mereka menjadi pemimpin yang lebih bertanggung jawab terutama pada dirinya sendiri. Sistem pendidikan kita pun harus lebih berorientasi pada pendidikan moral, bukan hanya intelekktual, dan pemerintah pun bertanggung jawab atas kasus ini.
Inilah potret remaja masa kini. Kita sebagai bangsa Indonesia harus berpartisipasi untuk meningkatkan moral bangsa dan mempertahankan jati diri bangsa sehingga tidak terjadi masalah-masalah yang melenceng dari kebudayaan kita.


Tidak ada komentar: